Merespon 'Buru Babi'

Sejak sekitar dua minggu terakhir, tengah berjalan diskusi hangat mengenai sebuah proyek foto bertajuk ‘Buru Babi’ (1, 2) karya Yoppy Pieter, yang merupakan salah satu mentor Arkademy. Diskusi dipantik oleh tulisan kritik Ramadhani, yang telah ditanggapi oleh Yoppy, yang lalu ditanggapi kembali oleh Ramadhani. Selain oleh keduanya, isu ini juga telah ditanggapi dan dibahas oleh Eka Nickmatulhuda dan Tomi Saputra melalui blog pribadi maupun kanal media sosial masing-masing.

 
Haji Rusdi and His Colleaguaes
 

Menanggapi sejumlah komentar yang berusaha mengaitkan Arkademy pada diskusi ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, berikut adalah posisi kami terhadapnya:

1. Arka Project, Arkademy dan kekaryaan individu atau kolektif. 

Arka Project adalah kolektif fotografer Indonesia yang berfokus pada proyek-proyek visual jangka panjang yang mendalam. Kolektif yang berdiri sejak 2014 ini beranggotakan Muhammad Fadli, Putu Sayoga dan Yoppy Pieter. Sementara itu, Arkademy merupakan sayap pendidikan dari Arka Project yang diinisiasi pada tahun 2018. Hingga saat ini, Arkademy dikelola oleh mentor-mentor yang tergabung di dalamnya: Ben Laksana, Kurniadi Widodo, Muhammad Fadli, Rara Sekar Larasati dan Yoppy Pieter. 

Perlu diketahui, walaupun terdapat perpotongan figur-figur yang sama dalam Arka Project dan Arkademy (dalam hal ini, Fadli dan Yoppy), kedua entitas ini pada praktiknya melakukan program-programnya secara independen tanpa intervensi satu sama lain. Arka Project tidak melakukan supervisi atas kegiatan Arkademy, begitu juga sebaliknya. 

Cerita foto ‘Buru Babi’ yang diunggah pada situs web Arka Project, karenanya, merupakan karya Yoppy sebagai seorang fotografer individu yang tergabung dalam kolektif Arka Project. Karya tersebut tidak dibuat dan dipublikasikan dalam kapasitas dia sebagai salah satu mentor Arkademy. Walaupun Yoppy adalah bagian dari Arkademy, kami tidak memiliki kuasa atas bagaimana karya-karya foto, tulisan maupun pemikiran yang dihasilkannya secara individu dibuat dan dipublikasikan. Pun demikian dengan karya-karya individu yang dibuat oleh mentor-mentor Arkademy yang lain. Khusus untuk ‘Buru Babi’, cerita tersebut bahkan telah mulai dirangkai sebelum Arkademy berdiri. 

2. Arkademy dan fotografi kritis.

Dalam ruang lingkup kerja-kerja Arkademy, terutama dalam lokakarya-lokakarya yang telah kami adakan, pengajaran fotografi kritis beserta konten pengajarannya pada mulanya diusung dan saat ini diampu oleh Ben Laksana & Rara Sekar Larasati. Secara singkat kami mendefinisikan fotografi kritis sebagai penelusuran peran-peran fotografi dalam memproduksi pengetahuan-pengetahuan yang turut membentuk persepsi pembacanya akan suatu isu.

Dalam hal ini kami melihat andil sang fotografer, bagaimana mereka turut bertanggung jawab dalam pembentukan dan penyebaran pengetahuan melalui foto-fotonya. Kesadaran ini akan menuntut fotografer menekankan pentingnya refleksi terhadap diri, kejujuran dalam berkarya, riset yang mendalam dan tentunya keterbukaan terhadap kritik. Akan tetapi definisi fotografi kritis ini pun masih terus kami refleksikan, kembangkan, dan perbaharui berdasarkan pengalaman-pengalaman mengajar kami pada lokakarya dari berbagai daerah di Indonesia dan masukan-masukan dari luar Arkademy. 

Perlu ditekankan bahwa pemahaman maupun praktik fotografi kritis bukanlah domain eksklusif Arkademy maupun individu-individu yang terasosiasikan dengannya. Kami tidak pernah (dan memang tidak mungkin bisa) mengklaim menjadi entitas pemegang kuasa tunggal atasnya. Tidak pula seseorang harus mengikuti lokakarya-lokakarya Arkademy untuk bisa menerapkan pandangan kritis dalam praktik berfotografi mereka. 

Fotografi kritis tentu saja tidak dimulai atau diciptakan oleh Arkademy. Aspek-aspeknya, yang mungkin saja tidak dirujuk menggunakan istilah itu, telah mewarnai wacana fotografi Indonesia sebelum kami hadir. Yang berusaha didorong oleh Arkademy adalah mencoba membawanya lebih jauh dalam ranah-ranah populer dan ke audiens yang lebih inklusif, untuk mulai lebih sering membicarakannya dalam kaitannya dengan bidang-bidang lain di luar fotografi. Hal ini menurut kami perlu dilakukan mengingat bagaimana fotografi saat ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keseharian. Bahkan lebih jauh lagi, ia berpotensi memberi pengaruh—baik atau buruk—pada cara kita memandang sisi-sisi kehidupan. 

Dengan menimbang itu semua, maka apa yang dilakukan oleh Ramadhani melalui tulisan-tulisannya, juga diskusi-diskusi lanjutan yang mengikutinya dengan berbagai sudut pandangnya, menurut kami justru merupakan contoh langsung dari penerapan fotografi kritis itu sendiri. Ramadhani melihat sisi problematis karya Yoppy yang berpotensi merepresentasikan Minangkabau secara keliru, dan melalui argumen-argumen yang ia bangun secara sistematis menyampaikannya pada publik untuk memberikan narasi korektif tandingan atas narasi Yoppy. Tentunya, Ramadhani (dan siapapun yang berpartisipasi dalam diskusi ini) tidak memerlukan Arkademy untuk melegitimasi apa yang mereka lakukan sebagai praktik fotografi kritis.

Kami rasa, mungkin malah ada yang perlu dipertanyakan jika publik fotografi hanya menunggu Arkademy (dan/atau siapapun yang dianggap mewakilinya) untuk menyampaikan pandangannya atas sebuah diskusi terkait fotografi kritis. Bukankah sentralisasi opini dan narasi tunggal justru sesuatu yang berusaha kita hindari dengan membiasakan berpikir kritis?

3. Arkademy dan proyek foto Buru Babi.

Walaupun pengajaran fotografi kritis ditujukan kepada peserta lokakarya Arkademy, hal ini tidak berarti bahwa secara internal, Arkademy tidak mengusahakan seluruh anggotanya untuk mendekati fotografi secara lebih kritis dan reflektif. Namun seperti yang telah kami lihat saat ini dalam diskusi cerita foto Buru Babi, sepertinya usaha tersebut masih harus lebih didorong lagi.

Pendekatan Yoppy terhadap ceritanya yang bertajuk Buru Babi memperlihatkan pendekatan kekaryaan yang masih tidak seideal apa yang ingin Arkademy dorong secara kolektif. Misalnya lalainya Yoppy dalam memberikan rujukan pada tulisannya, argumentasinya yang berlandaskan riset yang kurang memadai dan beberapa argumentasi serta klaim dalam narasi Yoppy yang terlampau besar dan tidak merepresentasikan subyek karyanya dengan tepat. 

Kami percaya sebuah karya fotografi akan selalu dipengaruhi subyektivitas dan opini pembuatnya. Sudut pandang yang diambil oleh seorang fotografer atas sebuah isu pada karya yang dibuatnya, bisa saja berbeda dari pemahaman kebanyakan orang atas isu tersebut. Perbedaan perspektif inilah yang membuat budaya-budaya dalam masyarakat bisa terus hidup, tumbuh, dan mengalami pemaknaan secara berkelanjutan seiring perkembangan jaman.

Akan tetapi, penyampaian sudut pandang yang di luar narasi umum ini tentu saja akan memerlukan argumen-argumen yang meyakinkan sebagai landasan pikirnya. Dalam tataran inilah, kami melihat karya Yoppy belum cukup memberikannya, baik dalam hal rujukan maupun apa yang bisa dibaca secara visual dari foto-fotonya sendiri.

Apabila Yoppy melakukan riset dengan lebih teliti dan peka, maka seharusnya proyek foto Yoppy berangkat dari suara subyek-subyek yang ia potret dan mencoba menelusuri pemahaman mereka dan bagaimana pengetahuan dan pengalaman mereka lahir, terbentuk dari dan membentuk konteks sosio-kultural mereka. Setelah ini dilakukan, barulah narasi alternatif atas suara-suara itu bisa mulai dihipotesiskan. Dalam narasi teks Buru Babi, sayangnya, Yoppy terkesan melakukan kesimpulan analisis yang prematur dan problematis.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan Yoppy menunjukkan masih ada perbedaan pendekatan terhadap fotografi kritis yang masih tajam antar anggota Arkademy itu sendiri, dan ini menjadi tugas berat Arkademy. Namun satu hal yang jelas, karya Buru Babi dari Yoppy di tahap ini belum bisa menjadi patokan fotografi kritis yang sedang Arkademy kembangkan. 

Dengan komitmen kami bukan hanya terhadap pendidikan kritis namun juga pendekatan fotografi yang kritis dan reflektif, kami telah mendorong Yoppy untuk mempertanggungjawabkan karyanya dengan terlibat dalam diskursus publik yang saat ini sedang terjadi. Tidak hanya untuk memperdalam pengetahuannya akan cerita yang dia angkat, tetapi juga untuk mempertajam pemikiran dan pendekatan dia dalam berkarya. Kami berharap cerita foto ‘Buru Babi’ yang masih dalam proses pengerjaan ini bisa diperbaiki dan diselesaikan dengan mempertimbangkan input-input yang Yoppy dapatkan selama diskusi, dan Yoppy melanjutkan dialog dengan pakar-pakar dalam disiplin ilmu terkait yang dapat memperkaya dan mempertajam pemahaman Yoppy akan makna dan posisi buru babi di Masyarakat Minangkabau.

Kami berterima kasih pada seluruh pihak yang sudah berpartisipasi secara sehat dalam diskusi karya foto Buru Babi oleh Yoppy Pieter, semoga diskusi-diskusi lain seperti ini bisa terus ditumbuhkembangkan. 


Salam,

Arkademy

Muhammad FadliNews, UpdateComment